Sebagai bentuk apresiasi terhadap peringatan hari RA. Kartini
Pada pagi itu tepatnya 21 April 2010 dengan berdandan pakaian adat di Indonesia, Guru SMP negeri 1 Malang mengenang perjuangan RA. Kartini dengan memakai pakaian Adat Jawa, terutama dengan ibu guru dengan gaun yang begitu kental dengan pakaian adat Jawa, seperti halnya kontes Putri Indonesia dan Miss Universe, :D :P

Raden Ajeng (RA) Kartini memang telah tiada. Rohnya telah bersemayam di alam keabadian menghadap Sang Khalik, 106 tahun yang silam, 17 September 1904). Meski demikian, nama perempuan ningrat Jawa yang lahir di Jepara, 21 April 1879 itu, akan terus dikenang sebagai sosok perempuan pejuang yang tak henti-hentinya berusaha “membuka mata” kaumnya dari ketertindasan dan keterbelakangan. Nilai-nilai kesetaraan menjadi mainstraim dan basis perjuangannya. Kartini tak segan-segan menggugat ketidakadilan di tengah atmosfer kultur Jawa yang demikian feodalistik. Derajat aristokrat dan darah kebangsawanan yang mengalir ke dalam tubuhnya rela ia “gadaikan” demi mengangkat martabat dan kehormatan kaumnya di tengah hegemoni kekuasaan kaum lelaki.

1. Masyarakat memandang bahwa memperingati hari Kartini dengan mengenakan pakaian adat daerah merupakan pekerjaan yang sia-sia. Apakah dengan mengenakan pakaian daerah bangsa kita lantas bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain…? Bukankah memperingati hari kartini dengan berpakaian daerah hanya sebuah ritual saja…? Atau dengan mengenakan pakaian daerah ada makna tentang pelestarian kebudayaan Nasional yang sangat kaya…? Yang jelas kini model peringatan hari Kartini dengan mengenakan pakaian adat daerah sudah mulai dtinggalkan.

2. Perubahan paradigma yang lain masyarakat memandang memperingati hari Kartini yang lebih penting adalah bagaimana wanita Indonesia mampu berbuat secara riil untuk kemajuan negerinya. Kalau di seorang Ibu Rumah tangga, barangkali bagaimana wanita Indonesia mampu mendayung bahtera rumah tangga menuju kearah yang lebih bahagia. Bagaimana dia mampu mendidik putra putrinya menjadi generasi yang tangguh dan beriman sehingga menjadi modal bagi negeri ini untuk membangun negara yang lebih mandiri. Bagitu juga kalau dia seorang guru, mungkin merayakan kartini yang lebih tepat adalah dengan mengabdikan diri sepenuh hati untuk anak didiknya, sehingga ke depan anak didik mereka menjadi generasi yang cerdas dan mandiri sehingga mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.Guru Kartini barangkali tidak akan hanya sekedar mengejar sertifikasi, tapi lupa akan mengabdi kepeda negeri ini.

3. Paradigma lain yang mungkin terjadi perubahan arah adalah, saat-saat ini sudah tidak ada waktu lagi untuk berfikir kepada hal-hal yang seremonial begitu. Para wanita indonesia sedang sibuk dengan proses pemilu. Ada yang langsung menjadi caleg, atau paling tidak ikut sibuk mempersiapkan suaminya yang ikut menjadi caleg. Namun bagi wanita Indonesia yang tidak terlibat langsung menjadi caleg masih juga disibukkan dengan menjadi KPPS, PPK, ataupun panwaslu. Luar biasa. sebuah partisipasi politik yang sangat tinggi bagi wanita Indonesia saat ini. Mudah-mudah wanita Indonesia lebih banyak yang kuat mental walaupun cita-cita meniti karir di bidang politik banyak yang mendapati kegagalan.

4. Perubahan paradigma yang terakhir ini yang sebenarnya tidak kita harapkan. Mengapa wanita indonesia tidak peduli lagi dengan Hari kartini…? Barangkali disebabkan karena kondisi mereka yang memang tidak memungkinkan untuk bisa berfikir sampai kepada hari kartini. Mereka sudah bisa makan setiap hari saja sudah prestasi, apalagi harus mememikirkan hari Kartini. Banyak diantara mereka yang masih menggeluti dihari-harinya akan kekerasan suami,  harus hidup menanggung seorang diri tanpa kompetensi apapun yang ia miliki kecuali mengandalkan belas kasihan orang lain. Kesadaran akan perubahan paradigma wanita Indonesia semoga membawa kearah yang lebih baik bagi kelangsungan negeri tercinta ini.

Amin… Amin…Amin… yarabbalallamin.